(re)solusi.

Jam dan kalender di pertengahan bulan adalah saksi bahwa mataku selalu melihatnya sekian kali, tanda kantong saya sebagai mahasiswa mulai dalam keadaan darurat, oh my.

Memandang akun sosial media menjadi sebuah hal yang lazim, bagi anak anak generasi Z setelah millenials, yang menjadikan malas gerak kami setidaknya ketika dianggap tidak berfaedah, kami punya hal yang sedikit, atau agak bermanfaat, yaitu menerima informasi terbarukan, ya setidaknya kami bermanfaat dalam proses fotosintesis sambil tidak membuat sesak jalanan bukan?

kembali ke topik, resolusi.

kalaupun saya ditanya, resolusi itu apa? dan apa harapan di tahun 2019, saya hanya menjawab, saya akan melanjutkan apa yang belum selesai di tahun tahun sebelumnya. menjadi diri sendiri dengan utuh, mengucapkan kata tidak dan sayang pada tempatnya, tidak hanya sekedar sulit membuah kenangan kita dulu yang pernah ada di suatu lokasi, misalnya.

Berat. Tapi Kudu.

Kuncinya adalah refleksi yha, kalaupun nantinya tidak bisa, maka pilihannya adalah kita bisa menceritakan keluh kesah kita kepada Tuhan, dan juga kawan, lewat status boleh saja, karena mereka memang selalu menggoda.

Fokus ke tujuan, hanya merubah beberapa pandangan saja, tentunya itu semua sama seperti kita melatih insting yang kita punya, bukankah kita memilki musuh, yang terdapat dalam diri kita sendiri?

Entah; suatu saat kita mudah menemukan solusi dan resolusi kita.

Iklan

#ReviewBuku – The Little Book of Hygge; The Danish Way to Live Well.

               Suatu ketika, saya bepergian ke Surabaya guna persiapan dokumen dan berkas keberangkatan saya untuk mengambil Master di Turki, saya selalu melirik toko buku yang disana, entah kenapa setiap kali saya sedang ada dana lebih di dalam dompet saya, saya selalu berusaha melakukan penghitungan dan mengira keuangan saya, untuk membeli bukudi toko buku disana. Karena penerbit buku yang dijual di Bandara selainsortiran buku buku yang terbaik, adalah buku buku best seller, berbahasa Inggris tentunya, dan mahal, iya buku yang kali ini saya pilih entah kenapa langsung saya comot dari raknya dan saya bawa kekasir. Dengan harga kertasmerah uang rupiah yang berjumlah dua lembar dan satu lembar yang berwarna biru,saya mulai membaca dan mengkhatamkannya di Turki, dimana saya menemukan ‘feel’ ketika saya menghabiskan buku ini.

               “The Little Book of Hygge; TheDanish Way to Live Well” dengan cover yang minimali dan hard cover, salah satu kesukaan kenapa saya membeli sebuah buku. Akhirnya saya baca perlahan demi perlahan, sekiranya saya taksir, kalau dengan total waktu, saya menghabiskan 3 bulan menghabiskan buku ini, karena selain terbatasnya waktu dan minat mood membaca saya sangat berkurang akhir akhir ini, jadinya saya menghabiskan bukuini setelah catatan blog ini saya tulis, sangat cocok dengan musim dingin dan penjelasan dalam buku yang saya tuntaskan.

               Buku ini adalah Analisa penulisbuku bernama Mike Wiking yang menghimpun dengan Institusi nya yang berasal dari Copenhagen, Denmark, tentunya buku ini menjelaskan bagaimana dan kenapa Denmarkbisa menjadi salah satu negara di dunia, atau khususnya salah satu dari negaraNordic, yang memiliki presentase kebahagiaan tertinggi, ternyata adalah mempertahankan adat untuk bisa bahagia dan Berbagi waktu dengan sahabat dankerabat keluarga yang bernama Hygge.

               Hygge (dibaca: Hoogah) adalahsebuah tradisi, yang menurut penulis adalah jalan hidup diluar religiusitas yang bisa membuat seseorang untuk selalu berpikir bagaimana hidup denganseimbang; membagi waktu dengan pekerjaan dan keluarga, serta diri sendiri, danmembahas bagaimana Hygge itu bisa menjadi sebuah tradisi yang baik bagi kita,menghilangkan rasa negative dan perasaan tertekan.

               Bahkan dalam buku ini, Mike Wiking mengatakan bahwa:

               “However, Hygge is the easy part,explaining exactly what is, you don’t spell it, but you feel it.”

               Beberapa konten yang ada didalamnya akan saya jabarkan dengan singkat, karena Hygge adalah sesuatu halyang unik, dan perlu kita lakukan di Indonesia, tidak melulu karena kesibukankerja, tapi kita menikmati bagaimana tidak bekerja dan mengatur waktu untuk bersantai.

               Key to Happiness : Togetherness dan Light.

               Perihal apa itu dan bagaimana hygge dan apa saja unsur yang menjadikan seni menikmati hidup ini terjadi, Hyggememiliki dua unsur Utama; yaitu kebersamaan dan cahaya, lampu atau lilin.Pertanyaannya kenapa harus lampu atau lilin?

               Riset mengatakan bahwa Denmarka dalah salah satu negara yang selalu menggunakan lampu khas mereka dan lilin terbanyak, di Eropa bahkan di seluruh dunia, dan bahkan dalam buku ini, riset membuktikan bahwa dengan mengatur posisi lampu dan perapian yang baik, mak abisa mengatur posisi untuk berkumpul dalam living room dan ruangan salon yangbaik, untuk merasakan bagaimana hygge terjadi dan tercipta.

               Unsur lain yang paling bisadinikmati adalah bagaimana dinikmatinya dan terciptanya sebuah ‘Hygge’ adalahdi luar ruangan, tidak berarti harus di dalam hutan dan berkemah bersama, namun bisa dilakukan di balkon teras Rumah anda, bersama sama, tanpa sering melirik gadget pribadi tentunya. Suatu hal yang bahkan perlu sekali kita budayakan bukan?

Buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca diselingan buat kawan kawan yang mau merubah pola hidup atau sedang melakukan live-well balance, selain buku ini menarik buat dibaca, cara penulisan buku ini sangat informatif, banyak ilustrasi yang bisa memanjakan mata, dan juga buku ini memiliki desain yang unik, sehingga perlu menjadi koleksi di rak lemari anda.


#MaknaMusik Imagine Dragons – Next to Me

Kapan kau tahu bagaimana rasanya seseorang yang selalu tampil di depan muka menyalurkan perasaannya yang paling rapuh? karya, dan beberapa karya ke’rapuhan’ musisi sudah saya tulis disini, dan sekarang, Dan Reynolds adalah salah satu yang akan kita bahas dengan seksama, dengan judul lagunya “Next to Me”.

Alasan saya akan membahas lagu ini, selain karena suara Dan Reynolds yang sangat membuat kuping serasa “Eargasm”, dan saya sendiri merasakan kekuatan dalam lirik yang jarang jarang sebagai band alternative rock, yang mendapatkan penghargaan di tahun 2014 ini membuat lagu yang galau dan sendu seperti ini, lagu ini dikeluarkan dengan album mereka, 14 Februari lalu, yang berjudul ‘Evolve’

Lagu galau selalu berkesan cliche, beberapa bagi setiap orang, namun tentu cinta dan kasih sayang selalu bisa membuat segala sesuatu menjadi berubah, iya kan?

mungkin langsung aja kita bahas mungkin ya? yuk ah~

Something about the way that you walked into my living room

Casually and confident lookin’ at the mess I am

But still you, still you want me

Stress lines and cigarettes, politics, and deficits

Late bills and overages, screamin’ and hollerin’

But still you, still you want me

Sebelum kita membahas tentang makna musik ini, asal kita semua tahu, Dan Reynolds menulis lagu ini karena memiliki kisah hubungan kepada Aja Volkman, yang juga seorang musisi dan artis, yang sekarang sudah berada diujung tanduk dan hampir kandas, mungkin sekarang sudah mulai kandas ya, karena komitmen sang vokalis untuk mendukung LGBTQ dan hal hal yang berbau kemanusiaan lainnya, 

please, ini diluar konteks agama ya, karena ini murni dari pikiran saya pribadi, unsur tadi kita kesampingkan dulu. skip.

Dan Reynolds pun sempat berpikiran kalau dia sama sekali tidak bisa menuliskan lagu cinta dan romantis, makanya beberapa lirik yang ada terlalu banyak interpretasi seperti lagu lagu mereka sebelumnya.

Lirik ini mengatakan bagaimana kerapuhan dan ketidak beraturan, dan bagaimana seorang yang benar benar kau cinta, datang dengan sebuah keanggunan dan kebesaran dirinya, kepada seorang laki laki yang tidak beraturan dan sangat berantakan.

Kemudian bait selanjutnya, perihal rokok, politik; debat yang selalu berujung menjadi kedua kubu yang mungkin bisa diartikan mereka bertengkar dalam hal hal yang selalu berujung akan menimbulkan perpecahan dan ya, mungkin karena ingin berkata cinta adalah hal yang tidak bisa dilakukan Dan, maka kalimat intrepretasi yang dia pilih adalah hal hal umum yang selalu menimbulkan perselisihan.

But still you, still you want me, adalah kalimat yang diulang, yang menjadi kata kunci yang nanti kita buat sebagai kenapa lagu ini menjadi lagu yang romantis, hehe~


Oh, I always let you down
You’re shattered on the ground
But still, I find you there
Next to me
And oh, stupid things I do
I’m far from good, it’s true
But still, I find you
Next to me (next to me)

Okey, di bait ini sebenarnya hanya deskripsi dari pria yang sedang ribut kepada kekasihnya, dan juga sebagai refleksi bagaimana pria ini sangat jauh dari kata baik, dan juga representasi Dan Reynolds sebagai misionaris kepercayaan Mormon nya. Bait yang paling terasa adalah bait ‘And oh, stupid things I do..’ cocok untuk menjadi quote orang orang yang galau karena wanita meninggalkannya akibat buruknya perangai kekasihnya, apalagi kalau ketika habis putus hubungan dan lagi jatuh mentalnya lagu ini penuh kekuatan!

Apalagi ini sebagai chorus, dan ya bakal berulang ulang ingatan memutar di kepala, tentu saja lagu ini sangat ahli memainkan perasaan anda.


There’s something about the way that you always see the pretty view
Overlook the blooded mess, always lookin’ effortless
And still you, still you want me
I got no innocence, faith ain’t no privilege
I am a deck of cards, vice or a game of hearts
And still you, still you want me

merujuk pada kemampuan istrinya yang selalu  untuk mengabaikan bagian-bagian negatif dari kepribadiannya, atau hal-hal buruk yang telah dia lakukan; meskipun begitu hubungan mereka dulunya masih bertahan dan sampai akhirnya mereka bercerai, dan terus hidup bersamanya.

Bagaimana buruknya dia dimata kekasihnya? semuanya, orang yang tidak memiliki sebuah kesulitan memandang Dan sebagai pria yang sangat sepele, sebagai orang yang bakal merusak hubungan dan penyebab semua kekacauan, tanpa rasa pamrih dan istrinya tidak banyak menghargai hak Dan dalam meyakini kepercayaannya.

Namun karena hidup adalah sebuah resiko dan penuh perjudian, menurutnya kalimat ‘deck of cards’ adalah kalimat yang cocok di tulis dan mewakili perasaannya, tapi mau bagaimanapun, kekasinya selalu mencoba untuk ingin terus bersama Dan, entah karena harta atau sebuah simbiosis mutualisme, entahlah. 

Dan hey, apakah kalian sudah menonton video klip yang mereka buat? sangat panjang, menyentuh diangka 12 menit! karena saya jarang melihat video klip lagu yang panjang dan lagu ini terkesan lain dari pada yang lain.

Oh
So thank you for taking a chance on me
I know it isn’t easy
But I hope to be worth it (oh)
So thank you for taking a chance on me
I know it isn’t easy
But I hope to be worth it (oh)

Kalau di lirik yang ini lebih menjurus kepada bagaimana reaksi seorang Dan dan bagaimana mereka berdua sama sama menghargai keputusan mereka berdua, sungguh menyayat hati, namun itulah perpisahan, tidak mudah, namun selalu berharga bagi kedua orang, sebuah pelajaran dan pengalaman berharga.

Di video klip yang mereka buat menjadi twist yang sangat berarti, dan kekuatan dari lagu ini, bagaimana Dan memilih untuk melakukan suntik dan bunuh diri, dan bagaimana perasaan wanita, dan apa saja yang dia utarakan, dan ya, tentu saja tentang sebuah penyesalan penyesalan; apakah setiap manusia selalu bisa untuk dimaafkan, dan apakah setiap manusia bisa menaklukan rasa takut dan ancaman dalam dirinya?

dan lirik terakhir sebagai penutup lagu kita kali ini~

I always let you down (I always let you down)
You’re shattered on the ground, (shattered on the ground)
But still, I find you there (yeah)
Next to me
And oh, stupid things I do (stupid things I do)
I’m far from good, it’s true
But still, I find you
Next to me (next to me)

Adios, then, HOLD ME ON. NEXT TO ME.

Mangal? What was it?

Suatu ketika kita sedang musim gugur- salah satu musim peralihan terberat bagi kami yang baru datang ketika kami sering terjadi yang namanya kesalahan penggunaan outfit dan membuat kami selalu kedingingan dan mudah terlihat menggigil, kami adalah salah satu mahasiswa di kampus daerah Istanbul, daerah terbesar di Turki, sedang ada project bagaimana agar mahasiswa di kampus kami selalu melaksanakan kegiatan dan akhirnya salah satu unek unek dari kami adalah bagaimana kalau kita melaksanakan acara bakar bakar, sekaligus merayakan selesainya ujian tengah semester yang sudah dilaksanakan minggu kemarin.

Bakar – Bakar,

Terlalu terngiang di kepala perihal bakar ayam dan pemanggangan, mengingat cuaca yang jarang dan bahkan jarang bersahabat, karena sudah memasuki peralihan ke musim dingin, #WinterIsComing bukan hanya soal tagar sematqa disini, termasuk peralihan cuacanya yang cukup ekstrim.

Sekiranya acara dilakukan ditaman dekat kampus kami, hanya jalan kaki dari kampus, dan hanya belasan menitdari apartement kami, namun karena gravitasi Kasur kami membuat perjalanancukup jauh dan membuat kami agak malas, meski acara ini kami yang memiliki usul dan ide, namun apa daya karena sudah terlanjut banyak yang antusias maka persiapan pun dimulai,

Ide memasak dan merebus ayam kami serahkan kepada perempuan perempuan dan kami yang menanak nasi, meskipun terasa berat, tapi kan sesekali pria juga perlu untuk sibuk dalam urusan dapur, apalagi nanti kalo gak matang, kodrat keperjakaan kami bisa runtuh total ya kan?

“perihal masak masak, kadang kita perlu juga sih untuk bagi tugas, karena acara kebersamaan bukan berarti harus ada yang diberatkan, iya gak?

Untungnya karena kami sudah mempersiapkan arang dan perapian untuk dimasak dari jam 8, setelah shubuh dan dimana matahari belum naik dengan sempurna, apalagi cuaca menunjukkan 7 derajat, kami sudah harus berusaha keras agar bagaimana arang dan baranya harus tetap terjaga dan ayam dan sosis harus sudah masak sepenuhnya.

Kenapa metal? karena hidup dan drama percintaan itu keras sob, keras!

Jam sudah menunjukkan jam 10, alhamdulillah ayam sudah mulai matang dan banyak yang sudah bisa kami sajikan, untuk mangal atau bbq party – apa saja yang sesuai dengan kalian- adalah nasi putih, sayur capcay, ayam bakar, sosis bakar, telur orek dan itu semua tidak higienis karena itu bekas tangan saya, Abdullah Bawazir, Malikus dan Adib.

Selamat menikmati, Afiyet Olsun!

Afiyet Olsun!

Untungnya hasil kamera diatas sudah mampu menipu kalian semua, jadinya setelah tulisan saya ini dibuat, mereka semua gak bakal tahu apa dan bagaimana proses jadinya makanan ini, hehehe.

Little Heavy Rain, November.


Kisah Fiksi Sepanjang Perjalanan Istanbul-Ümraniye

               Hujan sudah mulai masuk di daerah Anatolia, jika sebelumnya hanya angina dingin yangmampu menembus sepoi jendela dan merasuk gigil ke jasad kita, kali ini ditambahdengan bonus nikmat Tuhan berikan, air kehidupan hujan terus mengguyur seakanmengatakan untuk tidak berhenti dan menguji apakah kami akan kuat menahan hujanini, karena musim ini adalah peralihan dari penghujan ke musim dingin; hal yangaku tidak pernah bayangkan sebelumnya;

Terima kasih atas berkahmu tuhan, memberikan ku hujan, dan kehangatan dengan bersama.

               Menerobos transportasi umum melewati beberapa pemberhentian selagi hujan adalah sesuatu yang agak asing; karena riuh keramaian selalu terasa bilamana tidak hujan, pengap dan berdesakan manusia yang ingin berhenti dari satu pemberhentian ke pemberhentian lainnya.

               Hujan dimulai. Kabut dan air hujan masuk begitu mudahnya ke sela sela jendela kendaraan, sayup sayup penglihatan dari jendela perlahan berkurang; menjadi kabut akibat kabut yang kunjung merasuki setiap sudut kendaraan; Aku usap jendela dengan tanganku yang sepenuhnya dingin karena sepanjang perjalanan menuju stasiun aku terjebak hujan, sehingga aku mau tak mau membiarkan badanku terkena hujan dan mengigil kedinginan.

               “Segelas Teh mungkin akan menghangatkan badanmu” kata seseorang yang sudah menunggu ku di sebuah lokasi nun jauh, tempat dimana kita bertemu hanya untuk sekedar menyapa, karena waktu dan jarak yang tak kunjung memberikan kami kesempatan untuk hanya berbincang dengan nyata; meski hanya sepatah dan dua patah kata.

               “Tentu saja”. Ucapku dengan ringan.

               Pelayan toko datang dengan dua gelas teh, khas aromanya, khas dengan ramahnya.

               “Jadi,,…” Aku mencoba untuk mencairkan suasana, karena kami ada sempat terdiam melihat android kami masing masing.

               “SIlahkan aja kak, kalau mau ngobrol” Selanya kita aku akan berkata.

               Basa basi.

               Obrolan perihal hal hal receh yang aku tahu, dan berusaha untuk tidak kaku, perihal dari bagaimana keadaan daerah lain yang pernah ia tinggali dan tentu saja, bagaimana perkuliahan yang sudah ia jalani.

               Seketika kami tenggelam dalam pembicaraan kami yang mengarah kemana mana, lalu akhirnya jarum jam mengarah ke angka sepuluh, dari setelah Isya’ hingga jam sepuluh hanya perihal obrolan yang tak kunjung tahu mengarah kemana.

               Sembari dia merapikan pakaian dan jaketnya, sambal bergumam, aku berbisik kepada hujan diluar sana yang kunjung semakin berhenti dan tidak deras lagi, aku berkata “Hujan, tetap lah lebat” bisikku. Kemudian setelah bayangannya beranjak pamit, aku berbalik arah ke Istanbu, dan sambal tersenyum simpul, aku melanjutkan perjalanan, meski hujan tetap rintik, entah mengapa aku selalu merindukan hujan. Dan juga merindukan pertemuan itu.

#RisetSejarah Turki, Raksasa yang masih tidur


All other cities are doomed, but I imagine that as long as people exist, Constantinople will exist. – Petrus Gyllius

Sudah sangat lama, pembahasan perihal #RisetSejarah stuck dan tidak banyak menghasilkan tentang apapun, maka akhirnya setelah lama melakukan pembiasaan kultur dan budaya yang ada, akhirnya saya umumkan bahwa nantinya pembahasan perihal #RisetSejarah bakalan banyak dan penuh pengetahuan bagi saya dan kalian yang membacanya.

Turki. Konstantinopel.

Tidak asing bagi telinga masyarakat Indonesia tentunya, tentang bagaimana dimasa sekarang mereka memiliki pemimpin yang sangat keras dan diagung agungkan di seluruh penjuru negara Islam, sosok tangan baja dan dingin yang menjadikan negara Russia dan China sebagai kongsi dagang dan kerja sama, yang dulunya sempat mejadi pesakitan sekarang makin memulih, bagai sudah diberi ajimat untuk sembuh dari keterpurukan dan kehilangan banyak wilayah kekaisarannya dahulu kala,

Tapi, tahukah, bahwa negara Turki itu termasuk tanah yang ditemukan sudah lama, oleh kaum yang sangat berpendidikan dan berbudaya, yang membentuk mereka hingga menjadi sekarang ini?

sebuah ikon termasyhur hingga saat ini, namun tahukah kita bahwa ini adalah bagian dari kerajaan tua yang punya sejarah panjang dan mengaggumkan?

Byzantium sebagai kaum pertama yang menginjakkan kaki dan menancapkan bendera kekuasannya pertama kali, Istanbul dengan corak Byzantine.

Tidak banyak memang perihal sejarah turki yang bisa kita telisik, dan bagian mana sampai transisi dalam keagamaan mereka, maupun tentang Turks sendiri, kaum nomaden yang suka menjelajah dan ahli dalam menggunakan alat berat dan teknologi yang lebih maju, bagaimana hingga mereka bisa mendiami suatu negara?

Perjalanan #RisetSejarah saya akan saya usahakan untuk selalu update setiap 2 minggu sekali, di doakan ya kawans!

Maaf, Aku Izin Pamit.

assorted hot air balloons photo during sunset
Photo by Snapwire on Pexels.com

Pernah ada rasa diantara kita, namun sayangnya itu hanya sebatas rasa, aku selalu berusaha untuk  sadar, bahwa nantinya semua ini akan sia-sia, kau mencintaiku karena ketika aku mengucap rasa, ya aku menyukaimu, namun jika hanya sebatas kata; mungkin lelaki lain yang mengucap dan meminta dirimu kepada ayahmu lebih baik; Aku berusaha lebih banyak menutup diri dan melakukan hal hal yang bisa melupakanmu, melarikan diri kedalam hal yang lebih berguna contohnya.

Aku sering mencoba mengetuk pintu hatimu; dengan car acara ku; dengan santun dan juga kadang sangat memaksa tanpa ampun; namun hasilnya selalu tidak, pintu itu tidak akan pernah terbuka; untukku khususnya, entah jika ada lelaki lain yang pantas, mungkin akan terbuka;

Aku senang mendengar kau baik-baik saja, tanpa aku semua tentu tetap akan berjalan dengan semestinya; Aku kadang selalu berusaha untuk mencari tahu bagaimana kabarmu; yang sekiranya mungkin akan selalu bahagia; entah dengan apapun cara, aku sangat senang sudah melihatmu bahagia, tak terkira setelah kau mengirimkan kabar bahagia;

Lalu aku?

Aku hanya disini, tidak pernah kemana mana, karena aku tahu, bilamana kau sedih dan gundah, pundak dan bahu aku selalu ada untukmu, kau menumpahkan kesah dan pasrah, aku selalu ada disana, kapanpun kau perlu, Bukan; bukan berarti aku berusaha merebutmu dari kekasihmu, hanya saja yang datang adalah kamu, dan aku hanya bisa menjawab iya dan tidak untukmu.

Sayangnya tidak adalah kalimat yang tidak pernah aku ucapkan kepadamu, jika hanya terpaksa aku mengatakan, “Tidak, kau jangan pernah berpaling menghadapku, kita bukan siapa siapa”. Tragis, tapi itu adalah kehidupan dan ini nyatanya.

Pernah suatu waktu, aku mengetuk pintu hati yang lain, dan ternyata dia bukan untuk aku, aku selalu menggedor hatinya bahkan hingga akhirnya aku tersadar; dia tidak menginginkan ada tamu dalam hatinya; atau yang lebih buruk; hati itu tidak muat jika diisi untuk dua orang, maka selalu ada yang mengalah, dan menjadi seseorang yang pergi serta angkat kaki.

Maaf, jika kau mencariku, aku hanya berkata, tidak ada jalan untuk kembali, aku izin pamit.

Maaf jika kau berusaha meyakinkanku, aku hanya bisa menghela nafas dan berkata, maaf, izinkan aku pamit, bahkan ketika air matamu mengalir aku berkumpul di kelopak matamu; aku baru terlihat, aku hanya bisa berucap “Maaf, aku hanya khayalan dan fatamorgana matamu saja”.

Sekali lagi, aku izin pamit.

Bukan berarti aku tidak ada rasa, tapi kau mungkin mengerti, aku hanya memaksakan hal yang tidak mungkin bisa aku janjikan padamu, aku hanya lelaki yang selalu penasaran kepadamu, tidak kurang, dan bahkan lebih.

Maaf, genggaman mu aku lepas, aku izin pamit.

Aku seorang lelaki pengingat, bahkan kenangan buruk menjadi trauma bawah sadarku, aku selalu mengingat hal yang sudah lama terjadi bahkan sebelum kau sudah menyakitiku berkali kali, aku sudah terpatri bahwa aku adalah seorang masokis; lelaki yang selalu saja tersakiti dan menjadi candu;

            Maaf, menjauh lah dari kegilaanku, aku izin pamit.

            Demi kebaikanmu, sekali lagi,

            Aku izin Pamit.

 

Reinkarnasi.

Pernah suatu ketika; terbesit dalam pikiranku untuk menemuimu, atau seseorang lain, di ujung waktu masa depan sana, beribu ribu waktu nanti, aku selalu ingin menjadi seseorang yang baru; bukan seperti ini, seseorang pesakitan yang datang, dengan mengutarakan rasa, namun terlanjur telah menjadi mayat – yang hidup – jasad dengan utuh, penuh luka beban dan memar lahir, premature dan bathin yang terluka; hati yang dingin dan sudah tidak utuh, otak yang sudah membusuk, tidak mampu mengingat siapa kawan dan lawan dan hanya ada dalam pikiran menjadi haus darah -haus akan egois-, ini terlalu gila, bahkan aku selalu mudah menjamin bahwa kau akan menghindar; karena sudah tidak mungkin bersuci lalu bersentuhan dengan bangkai busuk.

Aku ingin menyayangimu -memilikimu meski jatuh berkali kali, kembali seperti sedia kala, lahir, tumbuh, menjadi dewasa dan mengenal cinta, dan memilikimu, jika tidak, akan aku selalu berharap untuk kembali ke tanah; diurai oleh pengurai ekosistem, dan berulang kali terbentuk menjadi baru, namun jiwa yang lama, dan sakit yang lama, terus hingga akhirnya jiwa beranjak ke fase sangat tua, namun jasad menjadi utuh kembali muda, maka tidak salah kalua seseorang mengatakan, segala sesuatu selalu ada konsekuensi, apapun yang kau lakukan berimbas menjadi apa yang kau tidak kira, dikemudian hari.

Aku sadar, ketika aku mengerti bahwa mengenalmu di masa lalu, membuat hari ini menjadi suram, dan masa depan menjadi tak pasti, apakah aku tetap kuat menjalani hari hari seperti yang lalu lalu, atau aku berpikir bagaimana jika aku berhenti saja, atau aku memilih mengorbankan masa lalu; sebagai penebusan dosa aku akan terus menjalani hari dan tetap memikirkan masa depan, kita masing masing, seperti biasa, dan seperti asing, bukan seperti reinkarnasi yang sudah sudah.

Aku muak menjalaninya, reinkarnasi hanya akan membuat ku menjadi seorang pendosa nan tampak suci, aku sadar aku hanya hambaNya, jika dengan cinta aku bisa membuat hati remuk, maka bagaimana yang dilangit menghujamkan aku, dan mencabut nyawaku dengan mudah?

Menyembuhkan Jasad, Merubah Fasad.

bty

Aku sudah mulai mencoba untuk terbiasa; dengan keadaan yang baru, iklim kehidupan dengan sebaik baiknya, entah mengapa waktu berjalan memasuki minggu keenam, sejak aku meninggalkan kampung halaman, musim yang berganti, udara sejuk aku hirup dan aku hela dengan panjang.

Berita mengenai hari bahagiamu baru saja usai, mungkin meriah bagi seluruh keluarga dan kawan terdekat, melihat seseorang dengan raut muka tanpa kesedihan, tanpa ada drama mengenai hal yang tak pasti, akhirnya menjadi sebuah janji suci yang ditepati seorang lelaki pemberani, datang dengan keseriusan meminta seorang yang pernah dekat, namun akhirnya kandas dan menghilang di balik pekat.

Aku merogoh gawaiku, aku tersenyum sungging, sedikit tertawa tentang sebuah masa lalu; dimana selalu menganggap kita adalah bagian dari sebuah kesatuan, namun upaya hanya menjadi duka dan mendua, jasadku utuh namun entah apakah kepercayaan diri dan empati ku masih utuh, aku rasa sudah runtuh, dan tidak berbentuk dengan simetris, seperti bangunan dengan fasad kunci yang baik, ketika aku berharap akan sesuatu, aku selalu lupa bagaimana cara orak dan emosi bekerja; hingga akhirnya pikiranku tidak jernih, aku memutuskan sesuatu dengan pemikiran tidak panjang, bukankah semua harus ada konsekuensi berkepanjangan, dan penuh detil?

Sama halnya dengan pembangunan dan perencanaan sebuah gedung, bilamana rancangan dibangun dengan sebuah rumus dan di buat dengan penuh perhitunga, dirancang oleh orang mahir dan di kerjakan oleh pekerja yang professional, hasilnya akan menjadi baik. Begitupun ketika akan memugar sebuah bangunan, dengan penuh ketelitian, membongkar beberapa fasad, dan memugar beberapa yang sudah rusak agak kembali seperti semula, mungkin tidak banyak berubah, tapi suatu saat ketika sudah jadi akan tetap terlihat kokoh.

Sama halnya dengan sebuah hati, kau mungkin pernah merasakan bagaimana hati ini runtuh; yang jadi permasalahannya apakah kau siap untuk menjadi kembali utuh, dengan memugar nya, atau merobohkannya dan menjualnya?

Aku berusaha memperbaiki, beberapa bangunan dalam hati ini yang runtuh, dengan penuh cermat aku ceritakan sejarah bangunan hati ini kepada yang Diatas, aku rancang ulang beberapa pondasi baru dan memugar beberapa retak sana sini, mungkin akan membuat bangunan ini lama, terbuka bagi siapapun dan terkunci bagai tertulis bahwa hati ini masih mencoba untuk dibangun kembali, tentu dengan cermat; hanya professional yang bisa memperbaikinya.

Sejenak perjalanan melihat bangunan tua begitu mudah membuat pikiran melayang jauh, entah bagaimana nantinya, bagaimana arsiteknya dan kekokohannya hingga mampu menjadi ikon, semakin membuat aku mudah tertarik dengannya,

Gugur Bunga Oktober.

aaron-burden-40491-unsplash

Jika aku selalu berkata setiap hari selalu ada momen dan kilas memori buruk tentang sesuatu yang membuatku mudah kepikiran dan menyayatkan hati, maka setiap hari itu akan selalu ada, apalagi musim gugur yang indah ini, iya musim gugur kali ini bukan musim biasa, berkata seorang teman ku dan ditambah melihat keadaan cuaca melalui cenayang cuaca di televisi Turki dan melalui daring internet yang selalu aku kunjungi.

Sekelibat memori itu selalu mudah kunjung, aku memilih untuk diam, meskipun dalam pikiran memori buruk itu semakin nyaring saja, aku selalu berkata dalam hati “kuatkanlah,” namun apa daya, aku yang hamba penuh dosa ini selalu merasa kurang, padahal sudah diberikan kekuatan bisa bernafas sayup hingga saat ini.

Aku bukan sosok yang mudah mendapatkan energi ketika bertemu dengan khalayak ramai, karena menurut ku bersama khalayak ramai hanya akan semakin membuat tenaga ku untuk menghadapi hari hari kedepan akan berkurang, aku memilih untuk tetap berselimut hangat sembari merasakan keadaan cuaca yang dingin melebihi di negara kelahiran dulu, yang 14 derajat hanya ditemukan di pegunungan tinggi, disini aku mengalaminya bahkan ini masih musim gugur, jauh masih musim dingin datang; namun ia masih merayap pelan pelan melalui angin, bertiup dingin dari Laut Hitam dan Pegunungan di Bulgaria.

Pertemuan itu adalah sebuah kesalahan. Hari itu adalah ingatan yang paling kuat; seakan aku merasa ini adalah hal yang paling bodoh yang pernah aku lakukan, namun apalah rindu, aku bukan seseorang yang kejam kepada seseorang yang aku kenal, aku penganut altruisme, mungkin dalam beberapa kejadian, termasuk saat ini, hingga saat ini.

Kau tak pernah berubah, bahkan sejak kau sudah bukan siapa siapa lagi, hanya seorang yang punya kedekatan emosional, coba kilah ku ketika ditanya seberapa berarti dirimu, kau selalu berpenampilan sama, dan masih –dengan senyum merekah- yang membuat aku pertama jatuh hati dahulu kala, aku datang dengan penuh kekalahan, aku datang dengan membawa pedang keyakinan dan keberanian; tanpa zirah keseriusan, tanpa strategi mutakhir sekiranya berakhir dengan pengkhianatan dan pembelotan.

Mamah, aku menyebutnya. Seseorang yang aku masih merasa aku membohongi beliau dengan kata kata halus dan tutur kata sopan, aku merasa seperti menjerumuskan beliau karena ucapan dikala waktu lampau dahulu. Beliau masih meyapa aku dengan hangat –sama saat pertama kali bertemu- menyapa dengan pertanyaan basa basi, hingga aku akhirnya diberikan waktu untuk berbicara, denganmu, ternyata rasa belum punah…

Kaku. Kami berdua merasakan perasaan yang sama, kami adalah dua orang asing yang baru pertama kali bertemu, pertama kali bertemu pun sama, asing. Hingga akhirnya dipisahkan dengan dan benar benar seperti orang asing, canggung dan basa basi kapan berangkat? Sudah makan? Seperti seseorang yang bertemu dengan orang asing yang bahkan aku tidak tahu bagaimana kepribadiannya. Canggung berakhir, dan aku hanya ingat, terima kasih dan minta do’a adalah kemauan dia yang terakhir, sebelum akhirnya ia benar benar lenyap dari penglihatan indra, namun ternyata kenangangannya masih bersemayam di kepala.

Berangsur-angsur, aku mencoba mematikan rasa. Aku berusaha menutup rapat apa yang pernah terjadi, seperti mengurung penjahat paling berbahaya dimuka bumi, aku tutup rapat segala kenangan yang ada dalam sebuah loteng pikiran yang mulai aku susun perlahan lahan untuk rapi, bersama dengan rak rak kesibukan yang selalu aku lakukan, prioritas membagi waktu yang berakhir menyakitkan sudah tidak ada, ruang kerja pikiran rapi dengan hati yang sudah dibekukan hingga akhirnya aku mampu bercerita hal baik tentangmu.

Itu hanya berlangsung cepat. Sapaan salam dari seseorang yang aku kenal baik; seseorang yang aku kenal baik, sapaan dan dukungan yang lebih dari nya mampu membuat jeruji hati luluh lantak, kemudian hati ini seperti ingin berkata, “cobalah kau akan lebih banyak belajar dari patah patah cinta sebelumnya. Jangan memaksakan perasaan lagi cobalah tegar menghadapi segala sesuatunya dengan konsekuensi bahwa kau adalah manusia biasa dengan perasaan baik”.

Lalu gugur mulai menjadi bersahabat, daun semakin berserakan, dan hati mulai menerima keadaan dengan memaafkan.