Savour Coffee & Co. ; Cocok untuk Fokus Skripsi.

Sudah beberapa minggu setelah lama gak ngepost, beberapa kali saya sering melakukan kegiatan yang dulu jarang saya lakukan, setelah lulus dan mengabdikan diri di dua tahun di kampus ini, saya lupa kalo kegiatan yang saya dulu lakukan, yaitu berkeliling mencari tempat ngopi untuk fokus mengerjakan skripsi.

Terletak di sekitar jantung kota Ponorogo, third wave cafe ini saya sering melihat sepi pelanggan, karena hampir saya kira, karena ke ekslusif an ketika launchingnya dahulu, atau karena mahalnya harga manu yang tidak sesuai dengan harganya? saya akan coba memberi informasi kepada kalian semua, sesuai dengan beberapa kali berkunjungnya saya dan kawan saya ke cafe ini.

Tempat ini jelas menawarkan eye-catching dan estetika, jelas dari beberapa sudut manapun, cafe ini menunjukkan bahwa meskipun ditengah kota dan sesaknya ruang yang ada di kompleks sekitarannya, tidak menyurutkan kreatifitas dekorasinya sehingga kaku, nyaris rapi dan sangat mencolok dari segi desain, termasuk backgroundnya.

Baackground Letter yang membuat saya tertarik, keterbatasan kamera menjadi buram, mohon maaf.

Apa yang membuat saya tertarik?

  1. Quiet Place. jujur tempat ini langsung disamping jalan raya; Jalan Provinsi! iya bener, karena pas berada di perempatan daerah Kauman Ponorogo, kafe ini ‘mau gak mau’ harus dilalu lalang dan dilewati oleh bermacam-macam kendaraan yang melintas, namun meskipun begitu, tempat dan desain bangunan yang agak rapat membuat kafe ini agak kedap, meskipun saya merasakan beberapa kali getaran ketika kendaraan roda besar melintas, but its not a big problem. Tempat ini benar benar sepi, hanya saya dan kawan saya saja yang berkunjung ketika pertama kalinya saya kesana. Kemudian kunjungan saya yang kedua, berapa pengunjungnya? Hanya saya sendiri!
  2. Cozy. peletakan lampu remang di tengan dan yang cukup terang di sudut tertentu membuat desain ruangan kafe ini terasa nyaman bagi yang ingin sekedar menikmati santapan, supper, maupun yang ingin berlama-lama hingga jam last order seperti saya. saya pikir ini cocok untuk ngeblogging seperti ini lagi. Termasuk kursi tinggi bagi kawan kawan yang hanya ingin menikmati kopi sembari melihat jalan raya. Ada juga sofa bagi yang ingin double date, ini untuk kawula muda mungkin ya?
  3. Affordable Price. harganya bagaimana? apakah mencekik banget, sehingga membuat sepi pengunjung di kafe ini? ternyata bukan, harga disini masih bersahabat, maksud saya, ‘bersahabat disini’ adalah jika dilihat dari sudut dimana kafe ini berdiri dan melihat kafe kafe yang disekitarnya harga di kafe ini cukup miring, mengingat kafe disini selalu memiliki apa yang ada di list menunya, lengkap euy.

Lalu, apakah kafe ini ada saran dan masukan? Jelas ada dong.

  1. Lahan Parkir yang sangat terbatas. Ini sangat menjadi masukan dan harus nya bisa dipertimbangkan, ahahaa, bercanda, menurut hemat saya pribadi, kafe ini karena memiliki lahan parkir yang sangat terbatas dan berseberangan dengan warung angkringan yang sudah lama buka di daerah ini, membuat kafe ini menjadi kafe yang lebih cocok dilewati ketimbang di singgahi. Sungguh sayang.
  2. Menu yang Lengkap, namun…, saya menyadari ini mungkin hanya dari sudut pandang saya dan kawan saya yang berkunjung ke kafi ini, kali pertama kami menyinggahi kafe ini, kami memesan SunRise dan Mojito untuk kami berdua, dan memesan Siomay Ayam, ketika menu pertama datang kami cukup puas karena rasanya benar benar masih seperti biasa kami  memesan di kafe lain, namun ketika Siomay Ayam datang, kami menyadari bahwa menu kedua yang kami pesan cukup membuat kami kaget karena menu yang dihidangnya cukup menusuk mulut, alias agak anyir, namun masih bisa saya maklumi, mungkin karena sangking jarangnya yang datang, beberapa stok di sana sering didalam kulkas dan menjadi tidak segar kembali

Berapa nilai bagi kafe ini? 

menurut saya, jika dalam rentang 1-10, kafe ini masih layak diberikan angka 6,5/10 karena cukup nyaman bagi saya untuk merenung dan fokus dalam mengerjakan beberapa proyek, hehehe.

Advertisements

Mencari Durian di Ketinggian Ngebel, Ponorogo.

Berangkat dari kebosanan kami dalam bekerja yang tak menganal jam kantor, jam lembur dan merusak jam biologis kami, kami memutuskan berangkat ke kampung durian di daerah ngebel, waktu itu juga, badai itu juga.

Tidak butuh waktu lama bagi kami merencanakan sesuatu, dengan persiapan seadanya pun kami jadi melakukan perjalanan ‘rehat’ ke arah Ngebel, Ponorogo, setelah adanya pembicaraaan keinginan kami untuk berendam di pemandian air panas di daerah Wagir Lor, Ngebel.

Kemudian tidak lama setelah itu , kami langsung mempersiapkan kendaraan, lalu terselip di pikiran kami tanpa aba-aba, “Bagaimana kalau sekalian nyari Durian di Daerah Kampung Durian di Wagir Lor? kayaknya asik tuh..” Kami bertiga mengiyakan dan perjalanan langsung dimulai.

Cuaca ketika kami menyalakan kendaraan tidak buruk, hanya badai angin yang menjatuhkan pohon pohon, hahaha. Hujan deras ditambah dengan angin badai yang bertiup membuat kamar tetangga kami bocor dan atap atap sekitar kamar kami yang berjatuhan, ditambah dengan konsleting listrik, makin membuat kami semangat berangkat menuju arah ketinggian.

Baru saja kami keluar kampus, jalanan sudah tertutup beberapa kendaraan yang mengular, berhenti dan klakson saling bersahutan, karena adanya pohon besar yang jatuh mengenai rumah masyarakat sekitar, sangat beruntung, pohon besar tersebut berhasil diamankan secara sigap sehingga mengurangi kemacetan parah dan masyarakat sekitar juga membantu merehab sementara rumah nenek tua yang rumahnya tertimpa pohon besar tadi. Alhamdulillah beruntung tidak sampai memakan korban.

Kemudian karena jalan utama kami terhambat, kami memutuskan untuk memutar dari jalan utama menuju jalan sempit, agar lebih memotong waktu dan juga perjalanan, meskipun jalanan agak terjal, namun upaya kami memotong jalan lebih efisien, karena akhirnya kami sampai di jalan menuju Ngebel lebih cepat.

IMG_3048
Beberapa foto yang kami ambil ketika melakukan perjalanan ke Kampung Wisata Ngebel. 

Untuk masuk ke Kampung Durian, per kendaraan akan dihitung 5000 rupiah, dan akses perjalanan menuju ke kampung durian masih sangat tradisional,  hanya jalanan yang di akses dengan satu jalur kendaraan dan agak curam, karena kampung ini masih tahap pengenalan kepada daerah sekitar.

Masuk di daerah wisata, kami disuguhkan dengan beberapa pondokan kecil yang bisa muat untuk satu keluarga 6 orang-an dan beberapa penjual makanan ringan dan minuman dari masyakarat sekitar kampung wisata Ngebel, saya membatin mungkin senagaja dibuat karena ingin mendongkrak perekonomian masyarakat dusun dan desa sana karena hampir semua yang disana berkaitan, seperti ketika masuk yang menjaga adalah karang taruna (anak anak muda) yang aktif membawa handie talkie untuk berkomunikasi karena akses jalur mobil yang hanya cukup untuk satu arah, kemudian penjaga warung yang dominasi bapak bapak dan ibu ibu.

Lalu, dimana duriannya?

Duriannya berada di Pondokan utama daerah kampung wisata, jadi kita kesana membeli durian kepada masyarakat yang sedang panen durian disana, harganya cukup berada di kisaran 30 sampai 80 rupiah, dengan ukuran yang besar, sepertinya ukuran 35-45 ribuan sudah cukup untuk kami yang hanya mencicipi durian sembari menunggu agak sore untuk mandi di pemandian air panas Ngebel.

IMG_3065
Cukup 3 Buah, karena banyak bisa berabe buat kesehatan, kolestrol hehehe

Setelah menikmati Durian, kami langsung menuju ke pemandian Air Panas, oh ya untuk sekedar informasi, di daerah Ngebel tidak hujan, karena memang seperti itu, Ponorogo cukup unik untuk perihal hujan, kadang di daerah A tidak hujan, di daerah B hujan sangat deras, maklum karena letak geografisnya cukup berbukti dan diapit beberapa daerah dengan iklim berbeda;

Skip.

Di daerah pemandian Air Panas kami langsung masuk dengan tiket masuk seharga 8000 rupiah per orang, kami langsung mencoba untuk bergegas mengganti baju dan kemudian berendam dan, voila, panas 😀

Sejarah dinamakan Tirta Husada? 

20 tahun yang lalu darah Pucuk (nama daerah tempat pemandian air panas ini) hanya digunakan untuk pemandian sapi sapi milik masyakarat sekitar dan karena air sungainya jernih juga kadang dijadikan sumber mata air untuk mata pencaharian masyakarat desa, seperti bercocok taman, bertani dan untuk di alirkan ke rumah rumah.

Lalu, beberapa titik muncul seperti mengeluarkan asap dan bau belerang, pada akhirnya sungai tersebut tidak lagi digunakan sebagai tempat mencuci Sapi milik masyakarat namun menjadi obyek wisata lokal bagi warga sekitar saja, pada akhirnya berita dari mulut kemulut dan karena kurangnya informasi juga pada waktu itu, desa ini mulai ramai dikunjungi masyarakat namun jalannya masih diarahkan oleh sesepuh desa, hingga akhirnya mulai banyak dari luar daerah yang berdatangan dan karena terbukti khasiatnya bisa menyembuhkan beberapa penyakit kulit, inisiasi warga menamakan Pemandian Air Panas ini bernama Tirta Husada, sekian.

Van Gogh; Lukisan dan Curahan (hati).

Ia lahir pada tanggal 30 Maret 1853, di Groot-Zundert, Belanda. Dari tahun 1869 hingga 1876 ia bekerja pada seorang pedagang barang seni. Van Gogh kemudian menjadi seorang guru di Inggris untuk waktu yang singkat.

Hari Agung wafatnya Isa Al Masih belum lengkap jika tidak membahas salah satu seniman ter’gila’ dan underrated di zamannya, sang pencetus post-impresionisme dengan anti mainstream. Karya nya yang berjumlah ribuan itu dianggap sebuah karya yang menjadi cawan suci bagi kolektor dan kurator seni di seluruh penjuru dunia, namun siapa sangka, karyanya yang begitu baik dan agung baru diakui setelah kematiannya?

Theodorus van Gogh, pendeta setempat, dianugerahi anak pertama yang dinamai Vincent. Ia dididik dengan religius dan tumbuh menjadi anak saleh. Vincent juga disayangi kelima adiknya yang lahir kemudian.

Di usia 16 tahun, setelah menuntaskan sekolah di kota kecilnya, Vincent memutuskan untuk mengikuti jejak sang paman sebagai penjual karya seni. Ia memulai karier barunya di Belanda, dan ketika usahanya semakin berkembang, Vincent harus sering bepergian ke Inggris dan Perancis. Awal yang menjanjikan untuk seorang pria muda.

Satu kali, ketika sedang menetap di Inggris untuk menjual karya-karya seni, Vincent berkenalan dengan perempuan setempat, putri dari pemilik kontrakan tempatnya tinggal. Vincent jatuh cinta padanya, namun cinta pertama ini berujung penolakan. Merasa depresi, Vincent pun meninggalkan bisnisnya begitu saja. Ia kembali ke kota kelahirannya dan mengikuti jejak sang ayah, mempelajari teologi.

Meski penuh semangat untuk menjadi pelayan Tuhan, Vincent gagal di beberapa mata pelajaran. Salah satu argumennya yang mencolok kala itu adalah penolakan terhadap penggunaan bahasa Latin dalam khotbah untuk kaum marjinal. Padahal, Vincent dekat dengan golongan tak mampu, seperti dengan kaum buruh tambah. Niat Vincent menjadi pendeta pun pupus.

Suatu kali, sebuah panggilan bergema kuat di benak Vincent. Ia ingin melakukan sesuatu yang lebih, meninggalkan jejak yang abadi. Sudah lama Vincent suka melukis, dan Theo, adik yang paling dekat dengannya, selalu mendorong sang kakak untuk melukis. Theo yang juga berkarier sebagai pedagang barang seni bahkan rela membiayai Vincent mengikuti pendidikan seni di Academie Royale des Beaux-Arts, Belgia, selama sembilan bulan.

Di usia 27 tahun, setelah merampungkan studinya, Vincent pulang ke rumah orang tuanya untuk melukis secara profesional. Sebagai seorang perfeksionis, Vincent tak ragu melakukan banyak eksperiment dan riset mendalam untuk memperkuat ilmu seninya secara otodidak. Objek-objek awalnya adalah pemandangan pedesaan atau figur para buruh tambang.

Pada 1881, dengan karier seni yang masih redup (lukisannya banyak diprotes karena tidak memakai warna-warna cerah seperti trend kala itu), Vincent kembali jatuh cinta. Kali ini, ia jatuh hati pada saudara sepupunya sendiri, Cornelia Adriana. Namun, Cornelia tak dapat menerima cinta Vincent karena wanita itu masih berduka atas kematian suaminya.

Tak lama, Vincent mulai menunjukkan gejala sakit mental. Ia pindah dari rumah orangtuanya untuk tinggal dengan sepupunya yang juga pelukis, Anton Mauve. Namun, dari rumah terdengar kabar bahwa sang ayah sakit keras. Vincent pulang ke Belanda dan mendirikan studio untuk berkarya di dekat rumah orang tuanya. Tetap saja, lukisan Vincent masih belum laris meski ia telah beradaptasi dengan gaya lukisan kala itu dan menerima masukan dari kritikus seni.

Suatu hari, Vincent kembali jatuh cinta, kali ini dengan Margot Begemann, putri tetangganya. Hubungan Vincent dan Margot cukup serius dan mereka telah merencanakan pernikahan. Sayang, orangtua Vincent maupun Margot menentang habis-habisan. Margot yang putus asa sempat melakukan percobaan bunuh diri dengan menenggak racun.

Ayah Vincent meninggal tak lama kemudian. Dalam kondisi depresi, Vincent pergi jauh dari rumahnya dan tiba di Paris. Di sana, ia tinggal bersama seniman terkenal Paul Gauguin, sambil sama-sama membangun mimpi untuk sama-sama membuat sebuah komunitas seni.

Namun, kondisi kesehatan Vincent makin lama makin memburuk – serangan epilepsi dan delusi mulai mengganggu kesehatan jiwanya. Satu kali, pertengkaran pecah antara Vincent dan Gauguin, dan Vincent sempat mengejar temannya dengan pisau. Pulangnya, dalam rasa kalut yang luar biasa, Vincent nekat memotong satu telinganya. Ia masuk rumah sakit dan ketika pulang, ia mendapati Gauguin telah pergi.

Pada 1888, Vincent mendaftarkan diri ke sebuah pusat perawatan mental di Saint Remy de Provence. Di sinilah Vincent berkarya dengan bebas, tanpa dikecewakan wanita atau sahabat. Vincent melukis dengan sangat produktif. Hampir setiap hari ia menghasilkan satu lukisan dengan kualitas tinggi.

Vincent telah terbiasa memasukkan warna cerah dan goresan yang unik pada karya-karyanya. Lukisan Vincent di masa ini menggambarkan kehidupan sehari-hari, seperti suasana kafe atau langit malam, namun goresan dan simbol di dalamnya benar-benar menggambarkan kondisi mental dan kehidupan personal Vincent.

Sayang, karena karya-karyanya tidak pernah diapresiasi, Vincent memandang hidupnya sebagai sebuah kesia-siaan. Suatu hari, Vincent menembak dadanya sendiri dan meninggal dua hari kemudian. Usianya baru 37 tahun.

Theo, adik kesayangan Vincent yang terus mengumpulkan karya-karya sang kakak, meninggal enam bulan kemudian. Janda Theo, Johanna Gesina, memutuskan mempublikasikan lukisan-lukisan kakak iparnya. Ternyata, karya Vincent mendapat popularitas tinggi dalam waktu singkat. Nama Vincent van Gogh mendadak terkenal dan karyanya diburu kolektor dengan harga tinggi. Bahkan, gaya lukisan Vincent turut mengubah tren lukisan kala itu dan membidani kelahiran aliran post-impresionisme. Kisah hidupnya yang penuh “badai” pun menjadi legenda.

Sebenarnya kisah hidupnya yang lebih berpengaruh besar terhadap karya karyanya, termasuk menjadi inti mangapa karyanya lebih terjual dari pada semasa hidupnya. Beberapa karyanya juga mendapat saran dan masukan dari seniman seniman yang sebelumnya ia temui dan berkolaborasi.

Seperti di beberapa paragraf diatas, delusi dan halusinasi yang membayangi pikirannya ternyata lebih mampu van Gogh atasi sendiri dengan meluapkan kegilaannya dan dengan semangat melukisnya, semagai media curahan apa yang dia rasakan semasa hidupnya.

Joyeux Anniversarie, van Gogh!

The Overtunes – Soulmate.

Pilihlah dengan cepat  soulmate antara dua
kau jadikan sahabat
atau sang kekasih
biar ku dapat tahu pasti
tentukan dengan jujur soulmate
aku atau dia
bila masih ada pilihan yang lain
hingga ku tak usah merana

Angelo bersaudara mampu menghipnotis pikiran saya, terlebih saya sebagai seorang yang jarang memikirkan sebuah hubungan; hubungan serius-yang saya maksud, dan pertanyaannya adalah, menjadi sahabat, atau seorang kekasih?

Saya jawab, untuk beberapa hari, bulan dan minggu kedepan, semoga saja bulan depan saya masih memegang prinsip ini; saya masih memutuskan untuk tetap dalam lingkaran pertemanan saja, kenapa? ya gitu lah, masak pertemanan antar kedua orang menggunakan perasaan berlebih? banyak modusnya nanti aku.

Sebuah pernyataan dari mbak Ika Natassha, mampu membuat saya agak tergelitik, sekiranya ini bisa jadi pelajaran dan pengalaman saya pribadi, sekiranya kamu mengenal seorang lawan jenis, siapapun, yang lebih muda atau tua, sebisa mungkin untuk tidak menaruh sebuah perasaan berlebih, over terhadap mereka, karena selain akan merusak arti sebuah pertemanan itu sendiri, akan merusak hatimu dalam dalam, percayalah, berakhir sebuah perasaanmu, berakhir juga pertemananmu, bukankah kayak gitu gak baik buat kesehatan hati dan jasmani?

Yak. Betul.

Bukan aku enggan…oh..
bersabar diri
maafkan daku soulmate 
bila kau berat mengucap
katakan dengan tulisan…katakan…jawabmu

Sekiranya mengungkapkan apa yang ada dalam hati itu lebih baik, utarakan aja, jangan gengsi, mohon, siapapun; ini malah akan menguatkan dirimu perlahan lahan, karena tidak akan berakhir dengan sebuah penolakan dengan tragis, mungkin akan dijauhi, tapi saya rasa, tidak sampai terputus komunikasi,

Kuncinya -> Respect your relationship, karena percayalah kau akan menemukan sebuah hal yang baru, apapun. Teman, Korelasi, Saudara, tempat berteduh, ojek payung *lah dan mungkin tulang rusuk yang ketemunya ada dalam lingkaran pertemananmu, maka cowok cewek yang baca postingan dan tulisan ini, bersabarlah.

Selain itu bagaimana sih tipsnya ketika soulmate mu adalah lawan jenis, lalu kamu hampir terjebak dalam friendzone? saya telah menghimpun beberapa cara, biar saya, kamu yang masih muda, masuk masa masa puber dan yang puber telat, atau yang dipaksa puber

Plis, kalian hanya seorang sahabat dekat, jadi jangan sampai ada perasaan “khusus” terlebih kalian nyaman, terus kebablasan, pokoknya kalian mengerti batasan kalian dalam berteman.dan juga, harus menanamkan dalam pikiran kalian, pribadi masing masing bahwasanya konsekuensinya ketika kalian berteman dan kemudian menjadi sebuah hubungan yang serius, lalu ditengah jalan kalian berhenti, ingat baik baik; jangan sampai lingkaran pertemanan kalian berdua rusak; berpotensi merusak masa depan dan komunikasi kalian. ini berdasarkan pengalaman saya sih, tapi gak ada salahnya berbagi, ya gak?

Bila masih ada pilihan yang lain
hingga ku tak usah merana..

Tenang aja kok, selama kamu mampu menahan diri dan perasaan, kamu akan  mengerti bagaiman kamu bersikap, selamat ngopi!

G.A.L.A.U.

Sejenak mengontrol ketenangan bathin di basecamp andalan, kopi Solok cocok membuat mata kembali cerah, sembari duduk menunggu pesanan yang belum datang ada sejenak aku berpikir, melepas jauh pandangan menerawang langit langit cafe. Lalu akhirnya setelah berpikir lama, ada satu pertanyaan yang akhirnya mulai menggema di otak..

what are you focusing on?

aku terpaku, oleh pertanyaan diri sendiri ke diri sendiri. aneh. sampai sekarang akupun masih bingung untuk menjawabnya, mau jadi apa? mau fokus kemana? lagi fokusin apa sih?

pesanan pun datang, kopi Solok menurut saya yang masih awam juga tentang ngopi ini punya pendapat kalau kopi ini diracik gaya apapun asam buahnya masih terasa, enak, tapi gak cocok di seruput banyak banyak, enak sedikit demi sedikit sampai tuntas, plus di kasih makanan manis seperti pisang coklat biar jadi pasangan yang cocok.

kopi yang pas untuk episode ke dua kali ini.

akhirnya pertanyaan tadi membuat saya terpaku lagi, sebuah momen yang membuat saya mata saya berkelebat kemana mana, memikirkan sekitar saya, sejenak saya menanruh gadget yang saya bawa kemana mana dan saya semakin bersandar menikmati kopi dengan makin dalam, makin dalam, dan saya memejamkan mata agak lama.

yang saya fokuskan tentang sebuah hal hal materil saja, ternyata..

faktanya dan kenyataannya, benar. yang saya fokuskan dan pencapaian yang sekarang hanya untuk diri saya sendiri, pencapaian yang ingin menyenangkan diri saya sendiri, faktanya masih banyak saya kurang bersyukur, akan sebuah hal, akan banyak hal, dan hal hal yang saya belum tahu dan yang saya lebih baik tidak tahu.

fokus untuk hal diri sendirimu mungkin cocok untuk berguna bagi orang lain..

kopi yang saya resapi ternyata sudah mencapai ke puncaknya, ampas kopi dari sumatera barat ini sudah seperti berkata, waktunya menyimpulkan apa yang ada di pikiranmu, dan akhirnya pada resapan kopi sore ini saya menyimpulkan, fokus untuk dirimu sendiri jangan sampai membuat kamu lupa tentang bermanfaat kepada orang lain.

sepertinya ed sheeran – save myself jadi rujukan pikiran saya episode ini. sekian.

Sibuk atau Menyibukan diri?

Waktu. Berjalan. 24 Jam.

ketika ditanya apa yang sudah saya lalui sejauh ini, saya bingung untuk menjelaskannya karena banyaknya hal yang saya lakukan, namun belum mampu mencapai kata tuntas, waktu yang berjalan sudah bagai sebuah mahkluk, yang selalu menghantui, meski kasat mata, namun bagai menyatu dengan pikiran saya. tersugesti dengan waktu yang semakin kejepit, sepertinya.

Now, Closer to the Edge..

entahlah, semenjak saya mengetik tulisan ini saya masih disibukkan dengan hal yang saya terasa berat untuk mengerjakannya bersama sama, namun malas mengerjakannya sendiri. sepertinya saya menilai diri saya sebagai pemalas, atau seseorang yang butuh mood baik untuk mengerjakan, namun butuh waktu lama untuk menemukan timing yang pas.

saya seorang juru catat di biro yang saya dapat amanah (sebenarnya dimanapun saya jadi panitia, posisi saya kalau enggak sekretaris, ya bagian seksi acara), butuh mood dan emosi yang baik bukan? yah, inilah, namun problematika yang sekarang bukan ini, dan juga bukan seperti judul yang diatas…

Lalu, Apa?

masa depan. suram saya lihat, namun jika merujuk ke plan yang sudah saya pernah buat (di pikiran saya sudah tertata rapi, namun lupa keluarnya kapan, wkwkwk) sepertinya banyak hal juga untuk perjalanan pribadi dan pencapaian pencapaian yang saya perlukan. belajar dari beberapa minggu lalu saya bertemu dengan Professor dari Jogja, melihat beliau “baru” jadi orang setelah banyak melakukan studi dan mengajarkannya ke orang banyak setelah 20 tahun lamanya.

saya 5 tahun setelah kelulusan saya dari SMA saya, dan 1 tahun dari almamater kampus saya yang tercinta ini, saya belum terlalu memiliki pandangan yang jelas untuk saya lakukan.

kalau yang saya pikirkan banyak. untung banyak juga yang sudah terealisasikan, hehehe…

beberapa kali saya punya pikiran untuk melakukan pemberkasan untuk mendaftar di salah satu perguruan tinggi yang menjadi cita-cita saya… namun apa daya setelah saya membaca keadaan, saya sepertinya belum diberikan kesempatan untuk menginjakkan kaki di tanah orang lain.

Ya Rabb, mungkin bukan kesempatan saya 🙂

dan perihal asmara, saya mungkin dengan melihat kepribadian dan cara saya bekerja, anda dengan mudah menilai saya sebagai orang yang masih belum bisa mengatur dan membicarakan sebuah hubungan (ya benar, beberapa postingan saya menyangkut ini, dan hasilnya? you know la~)

susah untuk membagi waktu dan menentukan prioritas yang benar bagi saya, toh karena hidup ini adalah sebuah pembelajaran dari sebuah kesalahan dan pengalaman orang lain, saya akan berusaha untuk memperbaiki itu semua.

minimal bisa bedain waktu kerja lembur saya dan waktu saya mencuci pakaian dan buntelan baju saya di binatu, ahahaha….

#MaknaMusik Coldplay – Everglow.

untuk kali ini saya membuat postingan dengan hashtag judul #MaknaMusik kenapa harus makna musik? karena beberapa musik yang saya dengarkan memiliki latar belakang dan mewakili perasaan yang sedang saya alami akhir akhir ini, hehehe (anda jugabegitu kan?)

album “A Head Full of Dream” yang diusung oleh Chris Martin dkk ini sepertinya mewakili perasaan frontman dari band asal Inggris tersebut, setelah saya perhatikan, karena saya cukup mengikuti band yang saya favoritkan ini.

Everglow, apa yang bisa kita dapat dari lagu yang cukup melow dan slow ini?

baiklah kita akan coba mengintepretasikan lagu tersebut.

We see people come

See people go

This particular timing is extra special

I know you might be gone

And the world may not know

Still I see you celestial

Pembuka dari lagu ini, dengan alunan piano merdu dan suara yang khas dari penyanyinya, lagu ini dimulai dengan lirik ini, sebuah pertemuan akan berakhir dengan pertemuan, dia sudah tahu,  pada akhirnya semua akan pergi, tapi apa yang pergi ya? apakah seorang kekasih?

Like a lion you ran

Goddess he wrote

Like an eagle you circle

And perfect of all

So how come things move on

How come cars don’t slow

When it feels like the end of the world

When I should but I can’t let you go

Di bait lirik kedua ini, Chris mencoba menjelaskan dengan gaya dan frasa gaya dia sendiri, bahwa kepergian (seseorang) yang ia sayang atau terkasihi seperti sebuah armageddon, sebuah akhir dari dunia ini, menyedihkan memang, apalagi di bait ini nada piano belum berhenti berdentang dengan pelan dan syahdu-syahdunya. tapi belum puncaknya….

But when I’m cold, cold

When I’m cold, cold

There’s a light that you give me

When I’m in shadows

It’s a feeling within me, everglow

everglow.

sebuah kata yang tidak sengaja terucap oleh chris ketika diwawancarai di Zane Lowe’s Beats 1 radio show Thursday (Nov. 26) apa makna dari sebuah everglow?

“I was in the ocean one day with this surfer guy, who spoke just like you’d imagine a surfer guy to speak,” Martin said. “He was like, ‘Yo dude, I was doing this thing the other day man, it gave me this total everglow!’ I was like, ‘What an amazing word!’ Then the song came completely out.” Chris Martin

maka everglow menjadi sebuah kalimat frasa untuk menunjukkan sebuah keindahan yang belum mampu dijelaskan dengan kata kata, seperti kata “wow!” namun dengan kalimat yang lebih khusus.

dan seperti biasa, di kalimat akhir selalu menjadi sebuah

quitences, sebuah intisari dari apa yang sedang dialami oleh mas Chris ini, ketika dia sudah bercerai dengan istrinya Gwyneth Parthlow.

Oh, what I would give for just a moment to know

Yeah, I live for this feeling, it’s everglow

So if you love someone, you should let them know

Oh, the light that you left me will everglow

“To me, it’s about — whether it’s a loved one or a situation or a friend or a relationship that’s finished, or someone’s passed away — I was thinking about, after you’ve been through the sadness of something, you also get this everglow,” he further explained to Lowe. “And that’s what it’s about.” MTV.com

yah, kadang kadang oenulis juga heran, kenapa ya Coldplay bisa membuat album dan single yang selalu bagus untuk didengarkan?

We see people coming

We see people go

This particular timing

Is extra special

We see people coming

We see people go

This particular timing

Is extra special